Minggu, Maret 13, 2011

GEMPA DAN TSUNAMI JEPANG TERDAHSYAT SEJAK RESTORASI MEIJI

Bencana gempa dahsyat yang disusul dengan tsunami di Jepang yang terjadi pada Jum’at 11 Maret 2011 lalu, telah membuat kerusakan besar di negara tersebut terutama di sekitar wilayah pesisir utara dan timur laut. Gempa dengan kekuatan 8,9 skala richter (belakangan direvisi menjadi 9 SR) itu memicu gelombang Tsunami setinggi 10 meter yang menerjang dan menghanyutkan mobil, rumah hingga kapal. Kondisi demikian membuat PM Jepang Naoto Kan menyebutnya sebagai bencana alam nasional terbesar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain memorakporandakan sejumlah wilayah daratan, gempa yang disusul tsunami dahsyat itu juga membuat kebocoran pada bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power Co (Tepco) sehingga makin menambah dahsyat dampak kerusakan.

Kepala Sekretaris Kabinet Yukio Edano menyebutkan bahwa gempa ini adalah yang terbesar sejak jaman restorasi meiji, dimana guncangan akibat gempa terasa sampai di Beijing, China, yang berjarak 2.092 km dari Tokyo.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang, gempa yang terjadi pada Jum’at 11 Maret 2011 merupakan yang terdahsyat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir. Skalanya melampaui gempa besar di Kanto, Honshu, 1 September 1923. Pada waktu itu, gempa yang menyebabkan sekitar 140 ribu warga Jepang kehilangan nyawa di kawasan Tokyo hanya berkekuatan 7,9 SR.

Kemudian jika dibandingkan dengan gempa besar Kobe yang terjadi pada tahun 1995 lalu, skalanya jauh lebih besar. Ketika itu gempa Kobe hanya mencapai 7,2 Skala Richter yang memicu kerugian ekonomi hingga 100 miliar dollar AS dan diklaim sebagai bencana alam paling mahal sepanjang sejarah Jepang.

Pada gempa dan tsunami kali ini, Kantor berita Kyodo memberitakan bahwa sekitar 1.700 warga Jepang menjadi korban meninggal dunia di dekat episentrum gempa, tidak jauh dari lepas pantai kota Sendai. Sementara itu menurut stasiun televis NHK, di kota pelabuhan Minamisanriku, Prefektur Miyagi, ada 10.000 orang yang tidak diketahui keberadaannya.
Puing-puing, termasuk rongsokan mobil dan reruntuhan bangunan yang diterjang tsunami tidak saja menimpa pantai Sendai, kota yang paling parah terpukul gempa, tetapi di sepanjang pesisir pantai di timur laut Pulau Honshu juga bertumpukan puing-puing. Warga sama sekali tidak bisa berjalan karena terkepung puing-puing yang menutupi sebagian besar jalan di pantai pulau utama di Jepang itu.

Tsunami menerjang hingga 10 km ke daratan Pulau Honshu dari garis pantai dan membawa kapal-kapal yang terdampar, rumah-rumah yang roboh, mobil-mobil, pepohonan, dan apa saja ke daratan. Lebih dari 215.000 warga di sekitar episentrum gempa diungsikan di 1.350 lokasi penampungan sementara di lima prefektur.

Dengan tetap bersimpati dan ikut berduka atas musibah besar yang menimpa warga Jepang ini, apresiasi dan ucapan salut patut kita sampaikan pada seluruh warga dan pemerintah Jepang. Berada pada wilayah rawan bencana tidak membuat mereka jadi lemah dan hilang akal, namun justru terus mencari cara dan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat bertahan hidup. Dan ikhtiar mereka kelihatannya ditanggapi positif oleh Yang Maha Kuasa. Apa faktanya ? Mungkin bisa kita simak dari data singkat berikut :
  1. Gempa di Jepang pada 11 Maret 2011 telah menyebabkan pergeseran sumbu (aksis) bumi di lokasi gempa sejauh 25 sentimeter dan menggeser posisi Pulau Honshu, pulau utama di Jepang, sejauh 2,5 meter dari posisi sebelum gempa. Namun hal ini ‘hanya’ menyebabkan banyak bangunan retak, tetapi tidak hancur total sebagaimana terjadi di banyak negara yang mengalami gempa dan tidak memiliki kualitas bangunan yang tahan gempa seperti di Jepang. 
  2. Gempa besar di Kanto, Honshu, 1 September 1923. Pada waktu itu, gempa yang terjadi skalanya lebih kecil yaitu 7,9 skala richter namun menyebabkan sekitar 140 ribu warga Jepang kehilangan nyawa. Jepang mulai belajar dari kejadian ini, sehingga pada gempa kali ini dengan skala 8,9 SR , perkiraan korban tewas jauh dibawah angka tersebut.
  3. Gempa besar Kobe yang terjadi pada tahun 1995, skalanya hanya mencapai 7,2 namun menyebabkan kerugian hingga 100 miliar dollar AS. Jepang belajar lagi, sehingga pada gempa yang lebih besar kali ini taksiran atas kerugian yang diderita jauh lebih kecil, yaitu diperkirakan hanya sekitar 10% nya saja atau sekitar 10 miliar dolar AS.
Manusia tidak akan mampu menolak bencana jika sudah ditetapkan terjadi, namun bukan berarti juga mengambil sikap pasrah tanpa melakukan usaha maksimal. Warga Jepang dan Dunia, termasuk kita, baru saja kembali diuji, ditegur, disadarkan dan diingatkan oleh Yang Maha Kuasa lewat gempa dan tsunami terdahsyat yang pernah terjadi di Jepang.

Baca Juga Coretan Terkait:

4 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)