Sabtu, April 11, 2009

Ketika Musim Contreng Tiba

Tau tau, sudah dua hari beranjak dari tanggal 09 April 2009. Rakyat Indonesia termasuk saya telah menetapkan pilihan akhirnya (Hidup Indonesia!). Dasar milihnya? banyak kepala, tentunya beragam pula isinya. Ada yang karena memang kenal dan paham partai atau calegnya, bisa juga karena kepincut sama figur tertentu yang jadi icon partai, atau oleh sebab fanatik abis sama yang jadi pilihannya sejak dulu kala, dan banyak juga mungkin karena 1-2 bulan sebelum hari mencontreng, tiba-tiba disambangi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenal, membawa 'oleh-oleh' sambil memperkenalkan diri sebagai caleg partai tertentu yang ujung-ujungnya minta doa restu dan tentunya dukungan.
Surat suara sudah dihitung. Provider Quick Countpun panen raya. Laris manis. Thanks berat to MK yang sudah memberikan restunya sehingga hasil penghitungan di TPS-TPS bisa langsung dipublish oleh para Quick Counter bekerjasama dengan media. Lantas, bagaimana selanjutnya?

Belum selesai perhitungan versi quick count 2 hari lalu, apalagi real count keluaran KPU, sudah bisa diindikasikan bahwa rakyat yang tidak memilih lah yang bertengger di klasemen puncak (tapi karena tidak terdaftar jadi tidak nampak). Prediksi awal sekitar lebih dari 30 % yang disebut-sebut sebagai golput. Ini jelas melampaui prestasi partai yang nongkrong di urutan pertama klasemen yang paling top bisa menjaring dua puluhan persen suara pemilih. Sekarang, makin jelas indikasi tersebut dan bahkan sudah bisa dipastikan. Reaksi dan analisa pun bermunculan. Ada yang puas dan pastinya banyak juga yang tidak puas. Bahkan yang terakhir ini mungkin yang lebih banyak.

Daftar Pemilih Tetap yang kacau, sosialisasi yang kurang jadi issu utama yang terus memborbardir KPU. Seperti biasa, dalam setiap kondisi dimana ada pihak tidak puas, harus ada pihak lain yang dituntut untuk tanggung jawab. O iya persoalan juga hadir di bilik suara, dimana pemilih harus berhadapan dengan makin ramainya partai (44 kontestan), dan bejibunnya wajah-wajah caleg (sekitar 11.219 orang), belum lagi DPRD, plus tak ketinggalan DPD. Wuih benar-benar seru! plus sedikit merepotkan.

Gimana ya untuk para penyontreng di desa-desa atau daerah pelosok khususnya para sesepuh yang sudah lanjut usia?

Padahal dari sekian belas ribu orang caleg itu cuma sekitar 5% saja yang akan dapat jatah kursi di Senayan atau DPRD.
Sisanya gimana ya? gimana juga segala sumber daya yang telah dikeluarkan ?

Setelah ini, masih ada lagi pemilihan presiden.
Kampanye lagi, berarti uang banyak berhamburan lagi.
Nego-nego politik lagi berarti ada pembicaraan soal kompensasi lagi.
Nyontreng lagi berarti berharap-harap lagi.

Rakyat dari dulu selalu yang terbanyak, tapi dari dulu juga kesannya hanya selalu jadi objek.
Bisakah PEMILU tahun ini menjadikan rakyat jelas posisinya? Menjadi prioritas utama dari setiap keputusan yang dibuat, masihkah jadi mimpi?

Baca Juga Coretan Terkait:

10 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)