Senin, April 27, 2009

Jelang Pilpres 2009 : Orde Blok Sana Sini

Kemarin semuanya senada dalam janji, sekarang semua berkompetisi
Kemarin :
Meningkatkan kesejahteraan rakyat, memudahkan rakyat untuk mengakses pendidikan, pelayanan kesehatan murah untuk rakyat (gratis malah), sembako murah untuk rakyat, rumah murah untuk rakyat, apalagi ? sobat sebutkan saja harapan sobat sendiri, keluarga, tetangga sebelah, temen nongkrong, rekan sekantor atau uber dan wawancara orang yang lewat sambil ngelamun.
Kalo sempat dicatat, coba kita sandingkan jawaban mereka dengan spanduk-spanduk dan iklan-iklan kampanye parpol yang sempat kita ingat. Di ingatan saya, keinginan itu jadi bahasa pemasarannya para caleg dan parpol yang jumlahnya hampir empat lusin. Tentunya dengan tetap konsisten menambahkan kata sakti untuk rakyat di akhir sales letternya. Jika dikejar lagi dengan pertanyaan rakyat yang mana ? Jawabnya pasti, ya rakyat kecil lah. Ujung-ujungnya, niscaya yang bertanya akan sulit untuk mendapatkan jawaban yang berbeda dari jawaban formal dan baku tapi ampuh sebagai benteng Percaya Diri ini , secanggih dan sekritis apapun sang penanya.

Sekarang :
Suara pemilih sudah dikumpulkan dengan kebisingan yang meriah. Protes, kritik, pemakluman, tuntutan, berseliweran di telinga KPU. Tapi ya namanya lagi sibuk ngitung, ditambah sedikit kebingungan sana-sini, suara-suara itu sementara masuk daftar tunggu dulu. Nanti, kalo sudah terpenuhi deadlinenya dan masih ada energi untuk menanggapi, pasti akan dipelajari. Dipelajari lho, lebih dari itu, tidak janji.
Sementara, sudah terlihat 10 besar parpol yang diurut berdasarkan banyaknya suara. Masih sementara ?. Ya mau gimana lagi, KPU belum selesai ngitung.
Kemarin juga, ada Quick Count yang cuma dalam hitungan hari bahkan jam hasilnya bisa langsung dirilis. Namun itu diklaim beberapa partai belum mencerminkan hasil yang sebenarnya, masih terlalu prematur. Tapi anehnya, sekarang rapat-rapat khusus partai dilakukan petinggi partai, untuk menentukan koalisi dengan siapa dan siapa calon jagonya. Tentunya dengan sadar atau tidak sadar, diskusinya merujuk pada angka-angka presentase sementaranya KPU yang kalo diliat ya memang tidak beda-beda jauh dengan hasil Quick Count yang masih prematur itu.

Perkembangan terakhir, Golkar batal koalisi dengan Demokrat dan otomatis memposisikan diri sebagai lawan untuk berkompetisi. Koalisi baru dengan partai lain pun digalang. Ada PDIP, Gerindra, Hanura, dan lainnya.
Sedang dijajagi koalisi sebelah sana.
Golkar pergi, PKS dan PAN pun merapat ke Demokrat.
Sedang diproses koalisi di sebelah sini.
Partai-partai 11 kebawah bukannya diam. Dalam setiap keriuhan, celah kesempatan sekecil apapun layak diintip dan ditunggu demi ikut menikmati lezatnya cipratan kekuasaan. Kalau kesempatan tak kunjung datang, usaha maksimal harus dilakukan untuk membuka celah itu. Demi mendapat remah-remah kekuasaan ini, prinsip siapa cepat dia dapat harus diterapkan dengan reflek dan tingkat kewaspadaan tinggi, supaya peluang tidak terlepas dan berakhir dengan gigit jari.

Ke depan, entah berapa blok yang akan terbentuk. Blok berarti lain barisan, lain kelompok, yang kalaupun perebutan kekuasaan ini diperhalus dengan sebutan kompetisi, tetap saja pihak lain itu disebut lawan. Blok-blok ini akan memajukan pasangan figur yang diharapkan bisa menjadi lokomotif penarik gerbong kekuasaan yang di dalamnya sudah duduk manis penumpang (partai partai dan kadernya) yang tak sabar menikmati indahnya pemandangan dari jendela gerbong.

Lha kalo sekarang kita lihat janji-janji yang kemarin, iklan-iklan yang kemarin, senyum-senyum simpatik agak narsis yang kemarin, spanduk-spanduk warna-warni yang kemarin, semuanya senada semua seirama. Tapi kembali lagi ke sekarang, katanya sama-sama ngotot ingin memperbaiki nasib rakyat dan mengangkat harkat bangsa. Tapi tiba gilirannya harus bahu membahu, bekerjasama demi kemaslahatan, muncul mekanisme pilih-pilih, timbul metode putus nyambung putus nyambung dan hadir trik kalkulasi politik yang dibikin njelimet. Tak sejalan, negosiasi menemui jalan buntu, beda prinsip jadi headline baru.

Bagaimana bisa tidak sejalan ?
Apa yang dinegosiasi ?
Jalan buntunya kenapa ?
Prinsip bagian mana yang beda ?

Kalau ditanya nasib rakyat dibahas di sebelah mana ?. Mungkin secara politis akan dijawab : “PENGEN TAU AJA!”

Baca Juga Coretan Terkait:

10 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)