Minggu, Juni 21, 2009

Proposal Yang Susah Ditolak

Pernah makan ketoprak? Saya bukan hanya pernah, malahan levelnya sudah sampai tingkat ngefans walaupun belum sampai jadi maniak ketoprak.

Cerita ini terbersit pada saat saya sedang ada satu keperluan dan mengharuskan saya untuk berada di hiruk pikuknya suatu pasar tradisional di daerah sekitar Kebayoran Lama. Mau dibilang cerita panas lagi, bisa juga sih. Soalnya selain settingnya di pasar tradisional, waktu itu juga jam menunjukkan sekitar jam 12 siang. Tengah hari, sinar matahari sedang terik teriknya, pedagang aneka rupa berjajar rapat, pembeli bersliweran, ditambah lagi aroma asap buangan dari knalpot kendaraan bermotor yang jelas gak bisa dibilang sedap. Lengkap sudah seluruh komponen pendukung aura panas yang terbangun siang itu. Benar-benar hot.

Untungnya, nggak sampai lama, urusan saya pun selesai. Tapi berhubung ini jam makan siang, muncul masalah baru. Stabilitas sosial politik di dalam perut mulai terguncang, masyarakat lambung mulai menuntut haknya untuk diperhatikan dengan menggelar demo diiringi musik keroncongan. Terpaksalah keinginan untuk segera keluar dari ‘oven raksasa’ itu saya tunda demi memenuhi aspirasi dan terjaganya stabilitas.

Singkat cerita, saya sudah duduk di bangku kayu panjang penjual ketoprak, menunggu pesanan ketoprak selesai dibuatkan. ‘Petugasnya’ hanya seorang dan lumayan sibuk, karena ini memang saat dimana biasanya orderan sedang banyak banyaknya. Terutama yang dibungkus. Saya masih cukup beruntung datang sebagai pembeli kedua yang makan ditempat, jadi tak akan terlalu lama menunggu.

Berhubung iseng menunggu, saya jadi memperhatikan semua hal yang ada di lapak ketoprak itu. Mulai dari gerobaknya, penampilan si mas penjualnya yang sederhana tapi bersih, sampai proses meracik bahan yang tersedia hingga siap tersaji.
Gerobaknya juga sederhana, yang belakangan saya sadar bahwa sebenarnya ini adalah gerobak gado-gado, karena menu utamanya ya memang gado-gado. Ditulis besar-besar.
Ketoprak rupanya cuma menu kedua. Tulisannya lebih kecil, hampir tidak terlihat. Itupun mungkin tersedia cuma sekedar buat jaga-jaga untuk jenis pembeli seperti saya. Supaya gak terus kabur.

Dan memang dari awal saya tidak menemukan adanya penggorengan untuk menggoreng tahu kuning yang biasanya jadi ciri gerobak standard ketoprak. Dan satu lagi saya tidak melihat ketupat yang bergelantungan. Cuma lontong yang nampak di etalase gerobak.
Pembeli berikut yang datang juga semua memesan gado-gado.

Baru belakangan saya ngeh semua fakta itu. Tapi tak apalah, selain sudah terlanjur pesan toh saya sudah terlalu malas untuk mencari tempat makan baru. Yang penting ketopraknya ada. Cukuplah buat saya.

Sebagai menu nomor dua, saya gak berani berharap terlalu banyak soal rasa dari ketoprak ini. Karena nomor dua bisa berarti asal ada dan dibuat sekedarnya. Kalo tidak enakpun itu resiko yang harus ditanggung sendiri oleh pemesan. Lidah sudah saya instruksikan untuk siap-siap mengalah dan kecewa. Perutlah yang sekarang jadi prioritas utama. Pokoknya perut terisi, misi selesai dan saya bisa terus balik ke kantor.

Setelah tidak terlalu lama menunggu sambil memperhatikan aksi gesit tapi terukur si mas penjual ketoprak eh gado-gado ini, akhirnya pesanan saya selesai juga. Baca doa sebentar, langsung santap. Maklum, lapar berat.

Nah ini dia kejutannya! Begitu lidah bersentuhan dengan suapan pertama, lumerlah semua pesimisme saya. Asli, rasanya uenak banget!. Lontong sebagai pengganti ketupat terasa lembut di kunyah, racikan sambel kacang khas ketopraknya mulus abis di lidah, hampir gak ada cela. Tahu kuning yang sudah saya vonis pasti akan anyep karena tidak dihangatkan, dengan sukses menjungkir balikan segala tuduhan dangkal yang saya tujukan padanya. Intinya, ketoprak buatan si mas penjual gado-gado ini berhasil membuat saya kepincut dan pingin balik lagi kesitu walaupun saya masih duduk disitu dan baru selesai suapan pertama.

Tak ada kata lain yang bisa mewakili selain mantap. Lewatlah sudah semua sajian spesialis ketoprak yang pernah saya coba.
Timbul penasaran, gimana rasa gado-gadonya ya ???

Itu belum selesai. Di tengah segala kerepotannya menyediakan pesanan pembeli yang lain, terutama yang dibungkus, dia masih sigap menyediakan segelas air bening untuk saya dan pembeli lain yang makan disitu.
Malah setelahnya masih sempet dia menawarkan, “barangkali mau minum yang lain mas?’’. Padahal dia bekerja sendirian. Tak terlihat ketidaktulusan di wajahnya atau tersirat keluh di nada bicaranya. Cuma senyum sumringah yang terpampang.

Pulang dari situ, saya putuskan untuk jadi langganannya. Karena memang keperluan saya di daerah itu termasuk sering. Si mas penjual gado-gado/ketoprak itu memang tidak pernah membujuk, menyeru, atau membuat iklan yang bombastis demi mengajak saya atau orang lain untuk membeli dan menerima produknya untuk kemudian menjadi pelanggannya. Tapi layanan dan hasil produk yang dipresentasikan oleh mas penjual gado-gado/ketoprak itu buat saya laksana sebuah proposal yang susah untuk ditolak. Daripada susah ya diterima saja. Dan sejak saat itu jadilah saya langganannya.

Ini pelajaran juga buat saya, bahwa untuk berhasil meraih sesuatu kita juga perlu membuat sebuah proposal yang susah untuk ditolak. Bukan proposal dalam bentuk berlembar-lembar konsep, tapi keseluruhan diri kita dan output kitalah wujud dari proposal itu. Dan itu butuh waktu dan proses yang jelas jauh dari sifat instant.

Ngomong-ngomong, apa nih yang sekarang sedang sobat ingin raih ? boleh dong berbagi disini tentang proposal yang mungkin sedang sobat siapkan… :)

Baca Juga Coretan Terkait:

21 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)