Tampilkan postingan dengan label Berhenti sejenak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berhenti sejenak. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 18, 2018

Mohon Maaf Lama Gak Posting

Mumpung masih dalam suasana Iedul Fitri, perkenankan saya mengucapkan Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1439 H, mohon dimaafkan lahir dan batin ya para sobat sekiranya ada ketikan saya di blog ini yang tidak menyenangkan baik dibaca maupun dihati, apalagi sudah lebih dari 4 tahun tidak ada update.

Yup, 4 tahun blog ini hibernate. Kelamaan ? Jelas!. Untuk sobat blogger yang baru mulai menekuni ngeblog jangan ditiru ya. Bukan contoh yang bagus. Kesibukan di dunia nyata meredupkan semangat ngeblog saya sehingga update di blog ini macet. Kadang suka kangen juga untuk bikin update postingan, seperti dulu waktu masa awal ngeblog, dikit-dikit sharing gitu, tapi ada daya karena terlalu lama berhenti membuat jari-jari dan otak ini jadi kaku dan kering, efeknya ide ketemu jalan buntu dan ujungnya gagal comeback berkali-kali. Sekali lagi ini contoh buruk, jangan dijadikan referensi yak.

Sekarang, saat Hari Raya Iedul Fitri di 2018 baru berlalu beberapa hari, keinginan untuk meng-on-kan lagi blog sederhana ini muncul, lebih menggebu dari biasanya. Supaya momennya nggak hilang, ya sudah saya paksa saja jari-jari ini ketak-ketik sekenanya. Sekedar untuk men-starter kembali blog yang lama teronggok ini. Awalnya sempat terpikir jangan-jangan sudah gak exist lagi ini blog, tapi ternyata masih ada, terapung-apung di dunia maya tanpa nakhoda.

Saya kembali, mudah-mudahan tidak terjungkal lagi. Salam hangat untuk para sobat yang sudah berkenan mampir kesini, baik sobat lama maupun sobat yang baru. Mohon kesediaannya untuk berbagi ilmu dan mudah-mudahan berkenan singgah agak lama untuk melihat-lihat lebih dalam blog ini untuk memberi masukan pada saya yang masih belum beranjak sebagai newbie.

Salam balik


Kamis, Desember 30, 2010

Timnas Indonesia Rajai Piala AFF 2010

Hasil Final Piala AFF 2010 Leg Kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno memang tidak jauh dari perkiraan. Timnas Indonesia menang 2 - 1 atas Malaysia, tapi tidak cukup untuk mengejar defisit gol yang terlanjur kita tanggung pada Final Piala AFF Leg Pertama di Stadion Bukit Jalil Malaysia. Ucapan selamat saya sampaikan kepada Malaysia. Sebagai juara baru di turnamen AFF , maka tropi dan kebanggaan layak mereka bawa ke negerinya sekaligus menutup turnamen Piala AFF 2010 . Namun tidak bisa dipungkiri bahwa Timnas Indonesia telah merajai turnamen Piala AFF tahun ini. Kinerja Timnas Indonesia mengungguli Tim lain yang mengikuti kompetisi ini. Malaysia silahkan membawa pialanya karena aturan turnamennya memang begitu. Tapi jika melihat fakta dan data, sebenarnya Pasukan Garudalah yang menjadi raja

Senin, Desember 27, 2010

Timnas Indonesia Menang Besar

Pertandingan Final Piala AFF Leg Pertama antara Timnas Indonesia dengan Malaysia adalah sebuah pelajaran besar dan berharga. Sesak memang. Saking sesaknya, karena tak tahan, saya spontan mematikan televisi begitu gol kedua Malaysia kembali menjebol gawang Indonesia yang dikawal Markus Haris Maulana. Tidak lama berselang teriakan tetangga sebelah kembali menambah gundah di hati karena ternyata bukan Christian Gonzales, Irfan Bachdim, Arif Suyono atau Bambang  Pamungkas yang berhasil menyarangkan bola ke gawang Malaysia, tapi malah sebaliknya. Tapi, walaupun televisi masih tidak menyala , kabar  tetap tertangkap telinga bahwa hingga akhir pertandingan Pasukan Garuda tetap tidak bisa membalas ketiga gol celaka itu. Kecewa ? sudah pasti. Melihat Timnas kebanggaan kita dikoyak seperti itu, siapa yang rela. Namun belakangan, setelah keluar dari situasi percaya tak percaya saya lantas berpikir bahwa Timnas Indonesia sebenarnya Menang Besar. Lho kok Bisa ?

Minggu, Oktober 03, 2010

Ditemukan Fosil di Jakarta !


Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, di klinik Pertamedika Medical Centre (PMC) Sinabung Jakarta Selatan ditemukan kerangka aneh dan diduga sisa makhluk hidup. Bentuknya seperti sisa hewan herbivora. Namun hingga saat ini belum dapat dipastikan sisa hewan apa karena bila dibandingkan dengan kemungkinan jenis hewan yang hidup saat ini, tidak ada yang cocok dengan karakteristik kerangka tersebut. Kerangka aneh ini ditemukan di sekitar pelataran parkir klinik yang memiliki area sangat luas oleh Mang Ade, seorang pekerja tukang pada saat ia sedang melakukan penggalian untuk membuat saluran air di salah satu sudut pelataran parkir. Mang Ade langsung menghentikan penggaliannya begitu menemukan kerangka tersebut dan serta merta temuannya langsung menjadi pusat perhatian para pekerja dan pengunjung klinik PMC. Belakangan timbul berbagai spekulasi atas temuan mang Ade bahwa itu adalah fosil. Berikut adalah satu gambar lagi dari kerangka yang diduga fosil itu :

Rabu, September 08, 2010

Sms Ucapan Idul Fitri atau Kartu Lebaran ?

Seiring Gerbang Idul Fitri 1 Syawal 1431 yang makin mendekat, mari kita tebar ucapan idul fitri hingga menyusup ke sudut sudut hati. Mau lewat SMS selamat idul fitri, lewat kartu lebaran unik dan menarik atau bahkan diucapkan secara langsung agar lebih afdhal hanyalah masalah cara yang bisa sobat pilih sesuai situasi dan kondisi. Yang terpenting hikmah puasa ramadhan yang telah kita tunaikan hendaknya mampu merubah kita menjadi insan yang lebih bertakwa sehingga begitu memasuki 1 Syawal, kita benar benar kembali kepada fitrah. Menjelang hari raya Idul Fitri 1431 H ini, saya ingin berbagi berbagai ucapan idul fitri yang unik, teduh dan menentramkan sebagai sarana kita untuk menjalin silaturahim sekaligus mewakili ungkapan hati saya pada sobat semua. Ini dia :

Senin, September 06, 2010

Gerbang Idul Fitri 1 Syawal

Ramadhan sudah menginjak hari hari terakhir. Gerbang Idul Fitri telah nampak di depan mata. Hari pengukuhan bagi muslim beriman yang mendapat gelar takwa sudah semakin dekat. Idul fitri adalah momen kemenangan sejati bagi muslim yang telah mampu menundukan hawa nafsu duniawi selama Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah dengan penuh keikhlasan hanya mengharapkan ridho Allah swt. Di ujung ramadhan ini, utamanya sepuluh hari terakhir sering kita diingatkan untuk menaikkan grafik ibadah kita agar saat 1 Syawal nanti kita benar benar kembali kepada fitrah, suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibu. Idul Fitri semakin mendekat seiring Ramadhan yang berlalu, pemandangan apa yang sering kita saksikan dari tahun ke tahun ?

Senin, Agustus 30, 2010

Lailatul Qadar Nan Luar Biasa

Di setiap Ramadhan, Allah menyediakan Lailatul Qodr bagi umat Rasullulah Muhammad saw. Lailatul Qodar adalah suatu malam yang luar biasa istimewa karena pada waktu itu Allah swt memerintahkan para malaikat turun dari setiap langit juga dari sidrotul muntaha ke muka bumi untuk mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat tersebut berikut Jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qadar adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar yang maqamnya bernilai lebih baik dari seribu bulan. 1000 bulan jika dihitung berarti sekitar 83 tahun 4 bulan. Luar biasa bukan ?, bahkan usia kita pun belum tentu sampai segitu. Apakah sobat tergerak hati untuk mendapatkannya ?

Kamis, Agustus 19, 2010

Nuzulul Qur’an Momentum Perbaikan Diri

Peringatan Nuzulul Qur’an yang biasa diperingati setiap 17 Ramadhan tentu bukan merupakan hal yang asing lagi bagi umat muslim Indonesia. Nuzulul Qur’an yang secara harfiah dapat diartikan sebagai turunnya Al Qur’an merupakan istilah yang didasari pada suatu peristiwa yang luar biasa dimana Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Rasulullah SAW. Selanjutnya, wahyu lainnya diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw selama beliau diutus di Mekkah dan Madinah. Kumpulan seluruh wahyu itulah yang kini kita imani sebagai kitab suci Al Qur’an, sebagai pedoman hidup umat muslim dunia dan akhirat. Tapi apakah sampai detik ini Al Qur’an sudah benar-benar kita amalkan sebagai pedoman hidup ?

Selasa, Agustus 17, 2010

Fadilah Shalat Tarawih di Malam Ramadhan

Segala Puji dan Syukur Bagi Allah SWT yang telah memanjangkan umur kita sehingga masih bisa menjumpai Ramadhan di tahun 1431 H ini. Ramadhan yang penuh berkah dan berlimpah pahala alangkah indahnya jika kita semua bisa mengisinya dengan ibadah. Salah satu ibadah yang utama adalah Shalat Tarawih di malam malam Ramadhan. Sangat sayang jika kita sampai terlewat shalat tarawih ini walaupun satu malam saja, mengingat fadillah (keutamaan) yang terkandung di dalamnya. Berikut saya sajikan untuk sobat sekedar sebagai pengingat, fadilah shalat tarawih sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW :

Minggu, September 27, 2009

Gelombang Arus Balik dan Magnet Kota

Berita arus mudik berangsur berlalu dari pemandangan kita. Kini, giliran gelombang arus balik yang menyita perhatian lewat cerita dan berita. Laporan pandangan mata seluruh media baik cetak, audio hingga audio visual, beralih tema. Didominasi berita dan potret dari berbagai penjuru lokasi, mulai dari daerah dimana arus balik bermula, sepanjang rute jalan yang dilalui, hingga kota tujuan yang menjadi ujung perjalanan gelombang besar manusia dari kampung halaman menuju kota yang katanya menjanjikan harapan. Pemandangannya sebenarnya serupa dengan peristiwa arus mudik, yang berbeda adalah tujuannya dan jumlah pesertanya. Tujuannya sekarang adalah kota, pusat harapan dan angan angan. Jumlah pesertanya ? Tentu saja bertambah, seiring dengan semangat mengikuti jejak anggota keluarga atau kawan yang setiap pulang kampung terkesan bertabur kesuksesan.

Arus balik tak ubahnya gelombang pasang bagi kota. Kota dalam benak dan fikiran sebagian besar orang desa telah dipandang sebagai ''surga'' yang menawarkan beragam keberhasilan. Kota telah terlalu dalam dipersepsikan sebagai lumbung uang, pekerjaan, pendidikan, dan karir. Kota dengan segala pencitraannya merupakan magnet yang membius kesadaran masyarakat desa untuk berebut mendekat kepadanya. Gemerlapnya kota telah membuat sebagian besar masyarakat desa silau sehingga memicu hasrat mereka berburu kesuksesan di kota. Daya tarik kota yang membius dan menyilaukan kesadaran itu membuat orang melalaikan konsekuensi bahwa tantangan hidup di kota tidaklah ringan. Taruhannya bukan sekedar harta atau materi, tetapi juga kehormatan, bahkan nyawa. Kenyataan telah banyak menunjukkan, begitu banyak orang yang hidupnya justru terhempas, limbung tak kuasa menahan kerasnya tuntutan kehidupan kota.

Tapi tetap saja kota akhirnya semakin sesak oleh orang-orang yang berjudi mengadu nasib di dalamnya. Dan ini tergambar dari mobilitas masyarakat dari desa ke kota yang terus menerus mengalami peningkatan, akibatnya problem perkotaan semakin meningkat. Kota dituntut menyediakan ruang (space) seluas-luasnya untuk menampung mereka. Padahal, kultur dan karakter kehidupan kota tidak memungkinkan untuk itu. Di sinilah kemudian terjadi ketimpangan sosial yang berpotensi mengubah karakter individu yang tadinya santun bersahaja menjadi cenderung emosional, akrab dengan kekerasan, dan sering terjebak pada tindakan menghalalkan segala cara.

Menurut saya, fenomena ini sangat layak menuntut perhatian dan pemikiran yang serius dari para pengelola Negara ini untuk terus berupaya merealisasikan program program yang handal, yang menyentuh akar permasalahan, sehingga mampu membatasi arus mobilisasi masyarakat desa ini. Akar permasalahannya sebenarnya sudah lama terdefinisi. masyarakat pedesaan mendambakan peningkatan taraf hidup dan perbaikan kesejahteraan yang mana mereka tidak bisa melihat peluang untuk bisa mewujudkan hal tersebut di desa.
Beberapa riset menunjukkan, serendah-rendahnya jenis pekerjaan yang dilakukan seorang migran di kota, senantiasa memperoleh pendapatan yang lebih baik dibandingkan sewaktu berada di desa. Ini misalnya tercermin dari pemungut puntung rokok, pengumpul kertas, dan tukang semir sepatu di Jakarta yang memperlihatkan kenaikan pendapatan sebesar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan penghasilannya di desa. Dengan adanya kesenjangan upah itu maka pilihan untuk berurbanisasi adalah hal yang rasional secara ekonomis

Gelombang Arus balik adalah gambaran perjuangan mewujudkan harapan, meraih keberhasilan, mengatasi segala rintangan dan kerasnya tantangan untuk menaklukkan kota besar. Bagaimana seandainya jika semangat juang itu difasilitasi sehingga menjelma menjadi energi yang dahsyat dan mampu mencerahkan desa, membangunkan yang selama ini tertidur, serta sanggup mengubah kondisi tanah kelahiran menjadi tanah harapan baru.

Tidak seperti saat ini dimana sebagian besar sumber daya dari putra daerah/desa yang potensial tersedot ke kota, berjudi dengan nasib meninggalkan desanya yang kembali terkulai tak berdaya. Desa hanya sesekali terbangun, dihentak arus mudik saat Lebaran setahun sekali. Ini sudah berlangsung bertahun tahun. Apakah kondisi seperti ini patut terus kita langgengkan…??

Sabtu, September 26, 2009

FENOMENA DUA ARUS BESAR di IDUL FITRI

Arus Mudik dan Arus Balik, dua istilah yang begitu rekat di fikiran dan hati masyarakat Indonesia. Gerakan massal yang tak jelas siapa memulai dan kapan startnya ini telah menjelma menjadi tradisi dan seiring bertambahnya waktu, makin bertambah kuat mengakar. Bahkan untuk sebagian masyarakat aktifitas yang penuh perjuangan ini sudah seperti menjadi suatu ritual wajib. Untuk mereka yang memegang prinsip ini, apapun siap diterjang demi kembali ke tanah kelahiran, demi hadir dan bersimpuh di pangkuan orang tua, bapak ibu, kakek nenek, demi menjumpai dan melepas kerinduan pada keluarga, sanak saudara, kerabat, teman bermain dan berangkat besar, pada suasana desa yang teduh, ramah, bersahaja namun penuh kehangatan dan jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk kota. Semua itu dan motivasi lain yang mungkin mengikuti, menemukan momentumnya pada setiap Hari Raya Idul Fitri alias lebaran.

Mudik, budaya lebaran kita, mobilisasi kolosal Idul Fitri kita, yang bahkan diperkirakan sebagai mobilisasi penduduk terbesar di dunia, memang fenomenal!!. Fenomenanya menarik untuk dicermati dan mengundang berbagai tinjauan serta sudut pandang. Mudik banyak yang mengupas sebagai sebuah fenomena sosial, budaya bahkan spiritual.
Tradisi mudik dari waktu ke waktu makin menunjukkan eksistensi sebagai ritual yang mampu menembus batas-batas rasionalitas kebanyakan pelakunya. Kampung halaman dengan segala ornamennya senantiasa menebarkan romantisme masa silam dan akan selalu berkesan bagi kaum urban yang merantau. Tak mengherankan jika jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri. Para pemudik ikhlas menghabiskan tabungan hasil keringatnya bekerja keras dalam setahun tanpa syarat, rela berhimpitan dan berdesakkan dalam kendaraan umum, menyediakan diri tersiksa berjam jam dalam perjalanan, dan pantang mundur menantang kemacetan abnormal yang menghabiskan waktu dan stamina. Bahkan yang mengkhawatirkan, mereka terkesan kurang mempedulikan keselamatan pribadi dan keluarganya.

Perjalanan belum selesai, itu tadi baru perjalanan satu arah. Tradisi mudik tidak pernah sendirian, ia selalu diiringi oleh mobilisasi Arus Balik yang tidak kalah fenomenal. Hingga kini, kedua arus besar ini tidak pernah terpisahkan. Arus Mudik selalu diikuti oleh Arus Balik, dan selanjutnya Arus Balik ini akan menjadi cikal bakal Arus Mudik berikutnya. Dan fakta menunjukkan kecenderungan, ‘peserta’ yang ikut serta dalam kedua peristiwa ini selalu bertambah.

Saya mengamati kedua peristiwa nan fenomenal itu memang hanya dari berita di televisi, surat kabar, atau cerita seru yang menyenangkan sekaligus menegangkan dari teman-teman yang baru kembali dari acara mudiknya.
Banyak hal positif yang menjadi tujuan dan bisa dipetik, namun dampak negatifnya juga tidak bisa diabaikan, apalagi munculnya persoalan yang mengikuti. Tak jarang kawan yang mudik sebelum hari Idul Fitri dengan ringan atau berat hati terpaksa mengalahkan puasa yang belum genap sebulan. Tambah lagi bila menyaksikan betapa berat perjuangan dan pengorbanan yang harus dilalui oleh saudara saudara kita yang mudik. Hati makin bergidik ngeri mendengar berita tentang ratusan bahkan mencapai ribuan nyawa yang melayang di jalan akibat kecelakaan.

Terkait masalah nyawa, hendaknya ini menjadi perhatian dan pertimbangan semua pihak, baik pemerintah maupun seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah perlu melakukan manuver kebijakan radikal dan komprehensif, untuk mengatasi murahnya nyawa di jalan raya ini. Merombak total dalam pengelolaan transportasi publik menjadi salah satu solusi yang seharusnya segera dilakukan. Masyarakat pun seharusnya sudah mulai memikirkan dan mempertimbangkan dengan seksama bahwa saat Lebaran tiba tidak harus berebut menuju ke kampung halaman. Jangan sampai peristiwa mudik lebaran ini terjebak menjadi aktivitas dengan taruhan nyawa

Mestinya, dengan Idul Fitri, dengan mudik segala arti, kita bisa mulai kembali menakar, mempertimbangkan dan menentukan setiap langkah kita esok hari sesudah Hari Raya berlalu menjadi langkah yang terarah menuju Allah Yang Maha Suci, Pemilik kampung akhirat, dimana kita semua pasti akan mudik kesana.

Kamis, September 24, 2009

Apa Kabar Sobat ?

Waktu memang cepat sekali bergerak. Tanpa sadar sudah dua bulan lebih saya vakum menulis dalam rangka mengupdate blog yang tadinya memang masih terengah-engah dan sekarang makin kembang kempis saja. Yang hadir terakhir tulisan mengenai ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Cerita seru dan cerita panas berikutnya baik yang berkaitan dengan hal tersebut maupun berita lain, atau sekedar bikin coretan tumpahan pikiran nyeleneh bin ngawur satu persatu berlalu, melintas tak terbahas.

Berawal dari kesibukan dari pekerjaan, akhirnya berkembang jadi redupnya semangat dan makin menumpulkan kepekaan. Terasa ada yang hilang, namun untuk memulai kembali terasa gamang. Rindu juga melakukan aktivitas blogging seperti yang di awal awal ngeblog jadi fokus utama perhatian. Menyerap berita, cerita jadi seru karena harus dituangkan jadi tulisan yang diharapkan berguna. Blogwalking ke blog para sobat jadi santapan sekaligus ajang silaturahmi yang menyenangkan. Dua bulan absen, tak dinyana bikin kangen.

Sekarang saya ingin berjalan lagi. Mencoba merekat lagi semua yang saya tak sadar telah renggangkan sendiri. Sekaligus di suasana yang masih berbalut kefitrian ini saya ingin membuka hati sobat dengan ucapan :

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Mohon dimaafkan segala kata yang mungkin pernah menyinggung, tak berkenan atau tercela di hati sobat semua. Semoga saya tetap diperkenankan untuk menjadi teman untuk berbagi dan belajar.

Maafkan daku juga untuk para sobat pengamat yang belakangan menemui tulisan tulisan alien yang beraroma komersil dan mungkin sedikit mengganggu he he he..

Jadi sekarang… Apa Kabar Sobat ??

Minggu, Juli 12, 2009

Selancar Virtual

Berseliweran di dunia ide, persepsi, pemikiran atau bentuk virtual sejenis yang lain, laksana berdiri di atas papan selancar nalar dan mencoba menunggangi ombak pengetahuan yang bergulung-gulung. Tanpa keseimbangan terukur dari nurani yang jernih, niscaya akan mudah jatuhlah kita, terpelanting dari atas papan dan tergulung gelombang. Bahkan bila ada insan spesial yang mampu memadukan kedua hal tersebut (nalar dan nurani) sampai mencapai tingkatan mahir sekalipun, sama sekali belum bisa berarti apa-apa. Karena hakikatnya, kita barulah berinteraksi dengan anak-anak ombak yang mungil di bibir pantai yang selalu menggoda syahwat penaklukan dan kebanggaan. Anak-anak ombak itu nampak begitu besar dan hebat di penglihatan karena kita memang kecil, rapuh dan banyak keterbatasan.

Fitrah keterbatasan yang melekat di dalam diri justru merupakan karunia yang melindungi dan menjauhkan kita dari jurang kekonyolan yang dalam maupun karang arogansi yang mengkaramkan apapun yang membenturnya.
Dua ranjau yang identik dalam esensi dan selalu berujung pada kebinasaan.

Karena segala pengetahuan yang kita punya tak lebih besar dari satu per sejuta atom dibanding hikmah yang tersembunyi di balik kebesaran semesta raya dan langit yang melingkupinya.

Tak terbayang dan tertakar lagi ke-Maha Besaran dari Pencipta, Pemilik, dan Pemelihara itu semua.

Jumat, Juni 26, 2009

Footnote

Setiap orang harus menghadapi kehidupannya sendiri. Dan tidak ada kehidupan yang berjalan tanpa bergandengan dengan masalah. Kita siap atau tidak siap bukan persoalan bagi sang masalah. Gelombang akan terus datang. Dan sayangnya tidak pernah sudi menunggu kita untuk mengambil nafas panjang. Pilihan kita sederhana, melemah lantas tenggelam atau memenangkan pertarungan untuk kemudian berhadapan dengan gelombang yang lebih besar lagi.

Itu aja...!

Minggu, Juni 21, 2009

Proposal Yang Susah Ditolak

Pernah makan ketoprak? Saya bukan hanya pernah, malahan levelnya sudah sampai tingkat ngefans walaupun belum sampai jadi maniak ketoprak.

Cerita ini terbersit pada saat saya sedang ada satu keperluan dan mengharuskan saya untuk berada di hiruk pikuknya suatu pasar tradisional di daerah sekitar Kebayoran Lama. Mau dibilang cerita panas lagi, bisa juga sih. Soalnya selain settingnya di pasar tradisional, waktu itu juga jam menunjukkan sekitar jam 12 siang. Tengah hari, sinar matahari sedang terik teriknya, pedagang aneka rupa berjajar rapat, pembeli bersliweran, ditambah lagi aroma asap buangan dari knalpot kendaraan bermotor yang jelas gak bisa dibilang sedap. Lengkap sudah seluruh komponen pendukung aura panas yang terbangun siang itu. Benar-benar hot.

Untungnya, nggak sampai lama, urusan saya pun selesai. Tapi berhubung ini jam makan siang, muncul masalah baru. Stabilitas sosial politik di dalam perut mulai terguncang, masyarakat lambung mulai menuntut haknya untuk diperhatikan dengan menggelar demo diiringi musik keroncongan. Terpaksalah keinginan untuk segera keluar dari ‘oven raksasa’ itu saya tunda demi memenuhi aspirasi dan terjaganya stabilitas.

Singkat cerita, saya sudah duduk di bangku kayu panjang penjual ketoprak, menunggu pesanan ketoprak selesai dibuatkan. ‘Petugasnya’ hanya seorang dan lumayan sibuk, karena ini memang saat dimana biasanya orderan sedang banyak banyaknya. Terutama yang dibungkus. Saya masih cukup beruntung datang sebagai pembeli kedua yang makan ditempat, jadi tak akan terlalu lama menunggu.

Berhubung iseng menunggu, saya jadi memperhatikan semua hal yang ada di lapak ketoprak itu. Mulai dari gerobaknya, penampilan si mas penjualnya yang sederhana tapi bersih, sampai proses meracik bahan yang tersedia hingga siap tersaji.
Gerobaknya juga sederhana, yang belakangan saya sadar bahwa sebenarnya ini adalah gerobak gado-gado, karena menu utamanya ya memang gado-gado. Ditulis besar-besar.
Ketoprak rupanya cuma menu kedua. Tulisannya lebih kecil, hampir tidak terlihat. Itupun mungkin tersedia cuma sekedar buat jaga-jaga untuk jenis pembeli seperti saya. Supaya gak terus kabur.

Dan memang dari awal saya tidak menemukan adanya penggorengan untuk menggoreng tahu kuning yang biasanya jadi ciri gerobak standard ketoprak. Dan satu lagi saya tidak melihat ketupat yang bergelantungan. Cuma lontong yang nampak di etalase gerobak.
Pembeli berikut yang datang juga semua memesan gado-gado.

Baru belakangan saya ngeh semua fakta itu. Tapi tak apalah, selain sudah terlanjur pesan toh saya sudah terlalu malas untuk mencari tempat makan baru. Yang penting ketopraknya ada. Cukuplah buat saya.

Sebagai menu nomor dua, saya gak berani berharap terlalu banyak soal rasa dari ketoprak ini. Karena nomor dua bisa berarti asal ada dan dibuat sekedarnya. Kalo tidak enakpun itu resiko yang harus ditanggung sendiri oleh pemesan. Lidah sudah saya instruksikan untuk siap-siap mengalah dan kecewa. Perutlah yang sekarang jadi prioritas utama. Pokoknya perut terisi, misi selesai dan saya bisa terus balik ke kantor.

Setelah tidak terlalu lama menunggu sambil memperhatikan aksi gesit tapi terukur si mas penjual ketoprak eh gado-gado ini, akhirnya pesanan saya selesai juga. Baca doa sebentar, langsung santap. Maklum, lapar berat.

Nah ini dia kejutannya! Begitu lidah bersentuhan dengan suapan pertama, lumerlah semua pesimisme saya. Asli, rasanya uenak banget!. Lontong sebagai pengganti ketupat terasa lembut di kunyah, racikan sambel kacang khas ketopraknya mulus abis di lidah, hampir gak ada cela. Tahu kuning yang sudah saya vonis pasti akan anyep karena tidak dihangatkan, dengan sukses menjungkir balikan segala tuduhan dangkal yang saya tujukan padanya. Intinya, ketoprak buatan si mas penjual gado-gado ini berhasil membuat saya kepincut dan pingin balik lagi kesitu walaupun saya masih duduk disitu dan baru selesai suapan pertama.

Tak ada kata lain yang bisa mewakili selain mantap. Lewatlah sudah semua sajian spesialis ketoprak yang pernah saya coba.
Timbul penasaran, gimana rasa gado-gadonya ya ???

Itu belum selesai. Di tengah segala kerepotannya menyediakan pesanan pembeli yang lain, terutama yang dibungkus, dia masih sigap menyediakan segelas air bening untuk saya dan pembeli lain yang makan disitu.
Malah setelahnya masih sempet dia menawarkan, “barangkali mau minum yang lain mas?’’. Padahal dia bekerja sendirian. Tak terlihat ketidaktulusan di wajahnya atau tersirat keluh di nada bicaranya. Cuma senyum sumringah yang terpampang.

Pulang dari situ, saya putuskan untuk jadi langganannya. Karena memang keperluan saya di daerah itu termasuk sering. Si mas penjual gado-gado/ketoprak itu memang tidak pernah membujuk, menyeru, atau membuat iklan yang bombastis demi mengajak saya atau orang lain untuk membeli dan menerima produknya untuk kemudian menjadi pelanggannya. Tapi layanan dan hasil produk yang dipresentasikan oleh mas penjual gado-gado/ketoprak itu buat saya laksana sebuah proposal yang susah untuk ditolak. Daripada susah ya diterima saja. Dan sejak saat itu jadilah saya langganannya.

Ini pelajaran juga buat saya, bahwa untuk berhasil meraih sesuatu kita juga perlu membuat sebuah proposal yang susah untuk ditolak. Bukan proposal dalam bentuk berlembar-lembar konsep, tapi keseluruhan diri kita dan output kitalah wujud dari proposal itu. Dan itu butuh waktu dan proses yang jelas jauh dari sifat instant.

Ngomong-ngomong, apa nih yang sekarang sedang sobat ingin raih ? boleh dong berbagi disini tentang proposal yang mungkin sedang sobat siapkan… :)

Kamis, Mei 21, 2009

Sekedar Cerita Tidak Seru

Suatu insiden dalam kehidupan kadang bisa mementahkan apa yang selama ini kita yakini tentang suatu keadaan termasuk keyakinan terhadap diri sendiri

Maha Besar Allah dengan kekuasaanNya yang tidak terbatas, tapi sangat sayang pada kita yang sering kebingungan dalam menakar kadar diri sendiri. Dia membangunkan kesadaran dalam jiwa dengan cara yang kadang aneh dan getir, walaupun kemudian kita sendiri akhirnya harus maklum pandangan aneh dan getir itu muncul karena pikiran dan hati kita yang sempit, yang hanya memandang kenyamanan, naluri untuk menjauh dari resiko dan menghindari konsekuensi sebagai suatu yang menentramkan.
Entah bagaimana sudut pandang sobat, namun menurut saya ketergantungan kita pada Kekuasaan Yang Tak Terlihat sebenarnya benar-benar pada taraf ekstrim.

Sedikit saja kita bergeser dari sekedar niat baik yang sederhana, kesusahan dan kesempitan mudah sekali datang berkunjung, hingga akhirnya kita selalu kembali meratap-ratap dengan susah payah padaNya.
Tapi sayangnya bukan susah payah yang sejati. Karena sering setelah beban diangkat, keluasan diberi, dan kesenangan dikucurkan olehNya, kita kembali terlupa dan terjerembab lagi dalam kealpaan
Padahal pada saat kita sampai pada titik terendah di hadapanNya dan hanya bisa tersungkur dalam ketidak berdayaan yang serius dan tidak dibuat-buat disitulah kita sering menemukan kemurahanNya

Pikir-pikir dalam menjalani kehidupan ini, hampir sebagian besar saya isi dengan kesalah pahaman dalam mengukur diri sendiri. Sangat sedikit sekali saya berpikir tidak keliru.

Ternyata…
Saya sering mempersempit ruang kebahagiaan diri sendiri.
Saya begitu bodoh dan rapuh, hingga sering menilai sesuatu dengan kata-kata yang menurut pikiran ini paling pintar dan meyakinkan dengan rasa percaya diri yang menggelora tapi lupa bahwa sebenarnya diri ini banyak cela.

Saya jugalah yang sering sombong dan terlena, hingga akhirnya kebenaran dan kesejatian yang terbungkus rapi dalam hikmah, sering enggan datang untuk memperlihatkan diri dan menyelamatkan kesadaran saya dari jebakan ranjau-ranjau kehidupan yang tertutup rapi dan tampak bersahabat.

Saya memang bukan apa-apa.
Bahkan untuk sekedar dibilang bodohpun saya belum pantas, karena cap bodoh itu bisa dibilang satu sinyal dari eksistensi.
Sedangkan saya..? Cuma sebutir debu dari beribu-ribu kali semesta di hadapanNya.

Eksistensi saya mungkin hanya akan diakui bila keseluruhan diri sanggup untuk cuma menghamba padaNya.
Karena status saya ya memang cuma hamba…., merasa lebih dari itu hanya akan membuat malaikat terpingkal-pingkal tertawa....

Kamis, Mei 14, 2009

Sajak WS Rendra, doa seluruh anak bangsa

Ditengah hiruk pikuknya cerita dan berita di seputar kita dari soal keluarga, tetangga, ,negara dan bangsa, hingga dunia,yang mengepung tanpa ampun. Saya tercenung demi membaca kembali bait-bait sajak karya ‘burung merak’ WS Rendra yang dibacakannya sendiri dan sempat saya catat pada waktu itu. Dengan sosok dan intonasi suaranya yang khas dan menggetarkan, dia membacakan bait-bait ini...

Ya Allah,
Di dalam masa yang sulit ini,
Di dalam ketenangan yang beku dan tegang,
Di dalam kejenuhan yang bisa meledak menjadi keedanan
Aku merasa ada muslihat yang tak jelas juntrungannya.

Ya, Allah kubersujud kepadaMu, Lindungilah kami.
Dari kesabaran yang menjelma menjadi kelesuan,
Dari rasa tak berdaya yang kehilangan cita-cita,

Ya Allah,
Demi ketegasan mengambil resiko,
Ada manusia yang dimesinkan… dizombikan…. ada juga yang difosilkan atau diantikkan
Uang kertas menjadi topi bagi kepala yang berisi jerami
Singasana kekuasaan menjadi tempat ibadah dimana bersujud kepala kepala hampa yang disumpal bantal tua.

Kemakmuran lebih dihargai dari kesejahteraan
Dan kekuasaan menggantikan kebenaran

Ya, Allah lindungilah kami semua
Dari berhala janji-janji
Dari hiburan yang dikeramatkan
Dari iklan yang dimitoskan
Dan dari sikap mata gelap yang diserap tulang kosong

Ya Allah
Seorang anak muda bertanya kepada temannya : ‘kemana kita akan pergi?’
Dan temannya menjawab kemana saja asal jangan berpikir untuk pulang.

Daging tidak punya tulang untuk bertaut
Angin bertiup menerbangkan catatan alamat
Dan rambu-rambu di jalan sudah dirusak orang

Ya Allah Lindungilah kami
Dari kejahatan lelucon tentang Politik dan Demokrasi
Dari heroin yang diserap lewat ciuman
Dari itikad buruk yang dibungkus kertas kado
Dan dari ancaman tanpa bentuk dari usia tanpa makna

Ya Allah
Kami dengan cemas menunggu kedatangan burung dara yang membawa ranting zaitun
Di kaki bianglala, leluhur kami bersujud dan berdoa
Doanya persis seperti doaku ini
Lindungilah kami semua..
Lindungilah daya hidup kami..
Lindungilah daya cipta kami..

Ya Allah satu-satunya Tuhan kami
Sumber dari hidup kami ini
Kuasa yang tanpa tandingan
Tempat tumpuan dan gantungan
Tak ada samanya di seluruh semesta raya


Karya WS Rendra
Catatan lama saya, mohon maaf karena judulnya saya lupa dan jika ada bait yang alpa