Kamis, Agustus 19, 2010

Nuzulul Qur’an Momentum Perbaikan Diri

Peringatan Nuzulul Qur’an yang biasa diperingati setiap 17 Ramadhan tentu bukan merupakan hal yang asing lagi bagi umat muslim Indonesia. Nuzulul Qur’an yang secara harfiah dapat diartikan sebagai turunnya Al Qur’an merupakan istilah yang didasari pada suatu peristiwa yang luar biasa dimana Allah menurunkan wahyu yang pertama kepada Rasulullah SAW. Selanjutnya, wahyu lainnya diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw selama beliau diutus di Mekkah dan Madinah. Kumpulan seluruh wahyu itulah yang kini kita imani sebagai kitab suci Al Qur’an, sebagai pedoman hidup umat muslim dunia dan akhirat. Tapi apakah sampai detik ini Al Qur’an sudah benar-benar kita amalkan sebagai pedoman hidup ?

Saya merasakan dari hari ke hari sepertinya segala urusan dunia ini cenderung membuat diri ini sedikit demi sedikit makin jauh dari Al Qur’an. Entah bagaimana dengan sobat, namun Al Qur’an bagi kebanyakan muslim di negara kita saat ini kelihatannya baru sekedar diakui sebagai kitab suci, sebagai simbol keislaman seseorang, tapi nilai nilai di dalamnya justru sering diabaikan. Saya pernah mendengar ada sejumlah peneliti yang melakukan survey terhadap umat Islam di Indonesia berkenaan dengan Al Qur’an ini. Dari sekian ratus juta muslim kalau tidak salah tidak sampai 30 % yang mampu membaca Al Qur’an dengan lancar dan benar. Dari jumlah tersebut makin sedikit lagi persentase muslim yang hapal Al Qur’an berikut maknanya. Dan terakhir, dari yang sedikit itu lebih sedikit lagi yang mampu konsisten mengamalkan nilai nilai dalam Al Qur’an dalam menjalani kehidupan.

Dari fakta tersebut, tidak heran jika saat ini keyakinan ataupun tingkah laku kita belum selalu berdampingan dengan Al Qur’an, apalagi sampai menyatu dengannya. Padahal jika kita berkaca pada masa Salafus Shalih yang mana mereka tidak pernah memperingati Nuzulul Qur’an, justru para shalihin ini tidak pernah lepas dari Al Qur’an. Generasi Qur’ani ini sangat mencintai Al-Qur’an. Mereka tidak pernah merayakan peristiwa Nuzulul Qur’an tetapi dalam shalatnya sanggup membaca ratusan ayat. Shalat tarawih di jaman salaf rata-rata membutuh-kan waktu 5 jam, dan kadang-kadang semalam suntuk, yang berarti setiap satu rakaat tarawih (dari sebelas rakaat) membutuhkan waktu 40 menit. Bahkan para sahabat banyak yang shalat sambil bersandar dengan tongkat karena terlalu lamanya berdiri. Sementara kita justru melakukan sebaliknya.

Belum lagi bila kita membaca riwayat Para tabi’in dan tabi’ittabi’in . Setiap bulan Ramadhan tiba mereka mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur’an seperti yang dilakukan oleh Imam Az-Zuhri dan Sufyan Ats-Tsauri. Sehingga dalam satu bulan sanggup khatam Al-Qur’an berpuluh kali. Imam Qatadah umpamanya, di luar Ramadhan khatam setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam setiap tiga hari, dan di sepuluh hari terakhir khatam setiap hari. Sementara Imam Syafi’i di luar Ramadhan setiap hari khatam sekali, dan di dalam Ramadhan setiap hari khatam dua kali. Itu semua di luar shalat.
Begitulah ulama Ahlus Sunah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur’an, namun setiap hari khatam Al-Qur’an, ada yang sekali dan ada yang dua kali. Sementara kita sebulan Ramadhan jika khatam sekali saja maka sudah merasa puas dan bangga.

Apa yang saya sajikan secara singkat ini, mudah mudahan bisa menjadi bahan renungan buat kita semua, terutama bagi diri saya yang sering khilaf dan lupa ini. Intinya, pada Ramadhan ini, tanpa harus membuat perayaan, perbaikan diri harus kita lakukan secara terus menerus, khususnya dalam mewujudkan kecintaan pada Al Qur’an demi mendekatkan diri pada Allah. Salah satu caranya adalah dengan mengambil hikmah dan pelajaran dari momentum Nuzulul Qur’an.

Baca Juga Coretan Terkait:

7 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)