Kamis, Mei 21, 2009

Sekedar Cerita Tidak Seru

Suatu insiden dalam kehidupan kadang bisa mementahkan apa yang selama ini kita yakini tentang suatu keadaan termasuk keyakinan terhadap diri sendiri

Maha Besar Allah dengan kekuasaanNya yang tidak terbatas, tapi sangat sayang pada kita yang sering kebingungan dalam menakar kadar diri sendiri. Dia membangunkan kesadaran dalam jiwa dengan cara yang kadang aneh dan getir, walaupun kemudian kita sendiri akhirnya harus maklum pandangan aneh dan getir itu muncul karena pikiran dan hati kita yang sempit, yang hanya memandang kenyamanan, naluri untuk menjauh dari resiko dan menghindari konsekuensi sebagai suatu yang menentramkan.
Entah bagaimana sudut pandang sobat, namun menurut saya ketergantungan kita pada Kekuasaan Yang Tak Terlihat sebenarnya benar-benar pada taraf ekstrim.

Sedikit saja kita bergeser dari sekedar niat baik yang sederhana, kesusahan dan kesempitan mudah sekali datang berkunjung, hingga akhirnya kita selalu kembali meratap-ratap dengan susah payah padaNya.
Tapi sayangnya bukan susah payah yang sejati. Karena sering setelah beban diangkat, keluasan diberi, dan kesenangan dikucurkan olehNya, kita kembali terlupa dan terjerembab lagi dalam kealpaan
Padahal pada saat kita sampai pada titik terendah di hadapanNya dan hanya bisa tersungkur dalam ketidak berdayaan yang serius dan tidak dibuat-buat disitulah kita sering menemukan kemurahanNya

Pikir-pikir dalam menjalani kehidupan ini, hampir sebagian besar saya isi dengan kesalah pahaman dalam mengukur diri sendiri. Sangat sedikit sekali saya berpikir tidak keliru.

Ternyata…
Saya sering mempersempit ruang kebahagiaan diri sendiri.
Saya begitu bodoh dan rapuh, hingga sering menilai sesuatu dengan kata-kata yang menurut pikiran ini paling pintar dan meyakinkan dengan rasa percaya diri yang menggelora tapi lupa bahwa sebenarnya diri ini banyak cela.

Saya jugalah yang sering sombong dan terlena, hingga akhirnya kebenaran dan kesejatian yang terbungkus rapi dalam hikmah, sering enggan datang untuk memperlihatkan diri dan menyelamatkan kesadaran saya dari jebakan ranjau-ranjau kehidupan yang tertutup rapi dan tampak bersahabat.

Saya memang bukan apa-apa.
Bahkan untuk sekedar dibilang bodohpun saya belum pantas, karena cap bodoh itu bisa dibilang satu sinyal dari eksistensi.
Sedangkan saya..? Cuma sebutir debu dari beribu-ribu kali semesta di hadapanNya.

Eksistensi saya mungkin hanya akan diakui bila keseluruhan diri sanggup untuk cuma menghamba padaNya.
Karena status saya ya memang cuma hamba…., merasa lebih dari itu hanya akan membuat malaikat terpingkal-pingkal tertawa....

Baca Juga Coretan Terkait:

18 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)