Minggu, Juli 12, 2009

Selancar Virtual

Berseliweran di dunia ide, persepsi, pemikiran atau bentuk virtual sejenis yang lain, laksana berdiri di atas papan selancar nalar dan mencoba menunggangi ombak pengetahuan yang bergulung-gulung. Tanpa keseimbangan terukur dari nurani yang jernih, niscaya akan mudah jatuhlah kita, terpelanting dari atas papan dan tergulung gelombang. Bahkan bila ada insan spesial yang mampu memadukan kedua hal tersebut (nalar dan nurani) sampai mencapai tingkatan mahir sekalipun, sama sekali belum bisa berarti apa-apa. Karena hakikatnya, kita barulah berinteraksi dengan anak-anak ombak yang mungil di bibir pantai yang selalu menggoda syahwat penaklukan dan kebanggaan. Anak-anak ombak itu nampak begitu besar dan hebat di penglihatan karena kita memang kecil, rapuh dan banyak keterbatasan.

Fitrah keterbatasan yang melekat di dalam diri justru merupakan karunia yang melindungi dan menjauhkan kita dari jurang kekonyolan yang dalam maupun karang arogansi yang mengkaramkan apapun yang membenturnya.
Dua ranjau yang identik dalam esensi dan selalu berujung pada kebinasaan.

Karena segala pengetahuan yang kita punya tak lebih besar dari satu per sejuta atom dibanding hikmah yang tersembunyi di balik kebesaran semesta raya dan langit yang melingkupinya.

Tak terbayang dan tertakar lagi ke-Maha Besaran dari Pencipta, Pemilik, dan Pemelihara itu semua.

Baca Juga Coretan Terkait:

10 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)