Minggu, Oktober 25, 2009

Ibu Yang Menghantam Hegemoni Kapitalis Imperialis

Buah pikirannya yang dituangkan dalam buku berjudul "It’s Time for the World to Change" atau Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung untuk terbitan bahasa Indonesia menjadi monumen perlawanannya terhadap sistem yang dirancang dan dibungkus dengan berbagai dalih oleh kaum Kapitalis Imperialis. Ia kita kenal sebagai Siti Fadilah Supari, seorang ibu bergelar Doktor dan merupakan dokter ahli Jantung yang menjadi Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Bersatu pertama. Kiprahnya sebagi menteri, dari sudut pandang saya, sangat impresif. Penuh dengan gebrakan yang sarat dengan penuntutan penegakkan keadilan. Dan yang paling fenomenal adalah gugatannya kepada WHO yang dinilainya telah mempermainkan kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat Negara Negara tidak mampu dengan kedok Global Influenza Surveilance Network (GISN). Badan bentukan WHO yang sangat berkuasa dan telah menjalankan praktek selama lebih dari 50 tahun. Sudah 110 negara diperintah oleh mereka untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Berikut sedikit kutipan yang bisa saya sajikan dari buku tersebut, sangat membakar kesadaran sekaligus jenggot mereka yang terlibat atau berkepentingan atas praktek tersebut :

" Ironisnya pembuat vaksin adalah perusahaan yang ada di negara-negara industri, negara maju, negara kaya yang tidak mempunyai kasus flu burung pada manusia. Dan kemudian vaksin itu dijual ke seluruh dunia juga akan dijual ke negara kita. Tetapi tanpa sepengetahuan apalagi kompensasi untuk si pengirim virus, yaitu saudara kita yang ada di Vietnam.

" Mengapa begini? Jiwa kedaulatan saya terusik. Seolah saya melihat ke belakang, ada bayang-bayang penjajah dengan semena-mena merampas padi yang menguning, karena kita hanya bisa menumbuk padi menggunakan lesung, sedangkan sang penjajah punya mesin sleyp padi yang modern. Seolah saya melihat penjajah menyedot minyak bumi di Tanah Air kita seenaknya, karena kita tidak menguasai teknologi dan tidak memiliki uang untuk mengolahnya. Inikah yang disebut neo-kolonialisme yang diramal oleh Bung Karno 50 tahun yang lalu? Ketidak-berdayaan suatu bangsa menjadi sumber keuntungan bangsa yang lain? Demikian jugakah pengiriman virus influenza di WHO yang sudah berlangsung selama 50 tahun, dengan dalih oleh karena adanya GISN (Global Influenza Surveillance Network). Saya tidak mengerti siapa yang mendirikan GISN yang sangat berkuasa tersebut sehingga negara-negara penderita Flu Burung tampak tidak berdaya menjalani ketentuan yang digariskan oleh WHO melalui GISN dan harus patuh meskipun ada ketidak-adilan?"

Saat itu, pada saat keraguannya atas WHO masih belum terjawab, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong.
Data itu, anehnya disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS.
Di laboratorium ini, dari 15 grup peneliti yang ada hanya terdapat empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Setelah ditelusuri ternyata Los Alamos ini berada di bawah Kementerian Energi AS. Di dalam lab inilah pula dahulu bom atom yang menghancurkan Hiroshima dirancang. Pertanyaannya kenapa data itu ada di lab tersebut, untuk penelitian vaksin atau senjata kimia?

Fadilah kemudian menuntut WHO untuk membuka data tersebut. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia terus berusaha keras. Dan pada 8 Agustus 2006 usahanya berhasil, WHO tidak bisa mengelak lagi untuk kemudian mengirim data itu. Para Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil,transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus dengan mekanisme baru yang lebih adil, transparan dan setara disetujui dan GISN dihapuskan.

Kisah ini bukan cerita yang baru saja dipublikasi. Cerita ini menjadi salah satu catatan penting yang ditorehkan salah seorang putra bangsa dalam sejarah perjalanan Indonesia, dalam lingkup nasionalisme maupun dari sudut pandang posisi Indonesia di mata dunia. Semoga apa yang telah diperjuangkan oleh ibu Siti Fadilah Supari dapat dilanjutkan oleh penggantinya Endang Rahayu Sedyaningsih yang saat ini sarat dengan kontroversi karena kabar kedekatannya dengan NAMRU 2, lembaga penelitian milik AS. Ini adalah ajang pembuktian baginya atas segala kekhawatiran berbagai pihak yang berkembang. Buat kita, hendaknya kita semua siap untuk mengawal apa yang telah diperjuangkan oleh Siti Fadilah Supari dalam rangka menegakkan keadilan serta agar tidak gampang silau atau rendah diri pada berbagai bentuk hegemoni.

Baca Juga Coretan Terkait:

6 comments :

Posting Komentar

Komentar Sahabat.. (But, spam is not friendly)